Indonesia dan Timor-Leste Bersatu untuk Melindungi Daerah Aliran Sungai Bersama: Peluncuran Proyek TIWA
Kupang, 23 Mei 2025 — Tonggak baru dalam diplomasi lingkungan telah tercapai. Indonesia dan Timor-Leste telah meluncurkan Proyek Daerah Aliran Sungai Kepulauan Timor (TIWA), sebuah inisiatif lintas batas penting untuk mengelola dua daerah aliran sungai penting secara berkelanjutan: Talau-Loes dan Motamasin. Awalnya, proyek ini dinyatakan sebagai Proyek Pengelolaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indonesia dan Timor Leste (MITLTW). Ini adalah proyek pengelolaan daerah aliran sungai bersama pertama antara kedua negara, dan upaya perintis di Asia Tenggara di bawah Fasilitas Lingkungan Global (GEF).
"Ketika sungai melintasi perbatasan, kerja sama harus mengalir."
Lokakarya Awal, yang diadakan di Hotel Sotis Kupang, mempertemukan lebih dari 100 pemangku kepentingan—pejabat pemerintah, ilmuwan, LSM, dan tokoh masyarakat—dari kedua negara. Diselenggarakan oleh Conservation International (CI) - GEF Agency, dan CI Timor-Leste, dan Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) sebagai lembaga pelaksana bersama untuk mendukung Pemerintah Indonesia dan Timor-Leste, lokakarya ini meletakkan dasar untuk kolaborasi lima tahun yang bertujuan untuk memastikan ketahanan air, ketahanan lingkungan, dan mata pencaharian yang berkelanjutan.
Lebih dari Sekadar Program: Komitmen Bersama terhadap Manusia dan Planet
"Ini bukan hanya tentang sungai—ini tentang alam yang menjembatani dua negara untuk bekerja secara kolaboratif untuk mengatasi ketahanan pangan, ketahanan, dan penguatan pengurangan bencana dan adaptasi perubahan iklim," kata Ketut S. Putra, Penasihat Senior Conservation International (CI). Dia mengusulkan nama Proyek TIWA untuk mencerminkan ekosistem bersama Pulau Timor. Proyek ini akan berfungsi sebagai model hidup tentang bagaimana sistem alam dapat menyatukan bangsa-bangsa di era perpecahan. Ketut juga menyoroti bahwa kearifan lokal harus dihormati, didokumentasikan, dan merangkul kolaborasi.
Dari 10 DAS yang ada, Talau-Loes dan Motamasin telah dipilih sebagai titik awal kerjasama. "Keduanya memiliki sumber daya alam yang kaya yang merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jadi penting bagi kedua negara untuk mengelolanya dengan baik," kata Eng Fernandino Vieira da Costa, Sekretaris Negara Kementerian Kehutanan Timor Leste.
Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dari Provinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia menekankan ikatan budaya yang mendalam yang menyatukan komunitas perbatasan: "Selama berabad-abad, orang-orang kami telah berbagi air, bahasa, dan adat istiadat. Perbatasan di sini bersifat administratif, bukan budaya."
Proyek ini juga mengakui suara perempuan, kelompok adat, dan komunitas yang terpinggirkan, memastikan inklusivitas dalam perencanaan dan implementasi.
Sains dan Tradisi: Mesin Penggerak TIWA
Penelitian oleh Universitas Nusa Cendana (UNDANA) dan Universidade Nacional Timor Lorosa'e (UNTL) menyoroti ancaman ekologis: deforestasi, erosi tanah, banjir, kelangkaan air, dan perubahan iklim. Risiko ini mengancam lebih dari 450.000 orang di daerah aliran sungai.
Profesor Eduardo Aniceto Serrao dari UNTL menekankan: "Ekosistem kita saling berhubungan. Kita harus mendasarkan tindakan pada pengetahuan lokal sebanyak data ilmiah."
Norman Riwu Kaho dari UNDANA menyebutkan bahwa masih banyak misteri yang perlu diungkap dari DAS tersebut. "Ada harapan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat demi kesejahteraannya dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Memang memang ada batas-batas administratif di wilayah DAS, tetapi ilmu tanpa batas, sehingga kolaborasi sangat penting dan diperlukan," tandasnya.
Untuk mengatasi hal ini, Proyek TIWA berfokus pada empat output utama:
- Analisis Diagnostik Transboundary (TDA) – untuk menilai kondisi lingkungan dan sosial-budaya
- Joint Forestry Working Groups (JFWG) dan Village Task Force Capacity Building – tim multi-stakeholder yang membimbing kolaborasi dalam mengelola DAS.
- Rencana Aksi Strategis (SAP) – peta jalan kebijakan dan program yang didasarkan pada realitas lapangan
- Pemantauan & Evaluasi (M&E) – memastikan akuntabilitas, pembelajaran, dan umpan balik masyarakat
Menjembatani Kesenjangan dan Membangun Ketahanan
Pembicara dari kedua negara menyerukan untuk mengubah MoU yang berusia puluhan tahun menjadi manfaat nyata. Sebagai Presiden Otoritas Kota Bobonaro, Alexander Pires, mengatakan: "Kami telah menandatangani dokumen selama bertahun-tahun. Sekarang, saatnya untuk dampak nyata."
Tantangan tetap ada—terutama koordinasi kelembagaan dan integrasi data. Namun, lokakarya tersebut menegaskan komitmen yang kuat untuk menyinkronkan metodologi, berbagi pengetahuan, dan menciptakan kerangka kerja bersama untuk tindakan. Peserta juga setuju untuk mendokumentasikan kearifan lokal, seperti ritual perdamaian tradisional yang dilakukan di sungai, sebagai kontribusi penting untuk ketahanan dan perdamaian.
"Proyek ini menunjukkan bahwa sains tidak mengenal batas, dan bahwa masalah bersama membutuhkan solusi bersama," kata Dyah Murtiningsih, Direktur Jenderal DAS dan Rehabilitasi Hutan, Kementerian Kehutanan Indonesia.
Manuel Mendes, Country Director Conservation International Timor-Leste, menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang, komitmen lintas sektoral, dan rasa memiliki masyarakat dalam mencapai tujuan proyek TIWA. Dia menegaskan kembali komitmen CI untuk bekerja sama dengan kedua negara, masyarakat sipil, dan mitra akademis untuk mempromosikan berbagi pengetahuan, pembelajaran adaptif, dan keberlanjutan jangka panjang selama siklus proyek lima tahun
Johan Rachmat Santosa, Technical Lead dari tim proyek InTI, menggarisbawahi inti dari strategi TIWA:
"Daerah aliran sungai bukan hanya tentang sungai. Mereka tentang manusia, air, sistem pangan, ekosistem, dan pengetahuan. Jika kita tidak mengelolanya secara kolaboratif, biayanya akan ditanggung oleh masyarakat di kedua sisi perbatasan."
Relevansi Global, Kepemilikan Lokal
Proyek TIWA adalah model yang selaras dengan SDG 6.5.2 tentang kerja sama air lintas batas. Dengan minat global dari berbagai aktor seperti Organisasi PBB, NGO, dan OMS, ini sudah dilihat sebagai studi kasus dalam diplomasi dan solusi berbasis alam yang dapat berkontribusi pada kesepakatan global lainnya seperti Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim, Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana, Agenda Perkotaan Baru tentang Kota Berkelanjutan dan banyak lagi.
Dalam sambutannya, Prapti Bhandary, Direktur, Pengembangan dan Pengawasan Proyek CI-GEF Badan Proyek Konservasi Internasional, berkomentar:
"Bersama-sama, kami tidak hanya melindungi daerah aliran sungai kritis. Kami membangun kepercayaan, memperkuat ketahanan, dan membentuk masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang."
Kolaborasi, Warisan untuk Masa Depan
"TIWA lebih dari sekadar proyek, ini adalah warisan yang sedang dibuat, komitmen bersama untuk membangun masa depan yang berkelanjutan lintas batas," kata Ir. Laksmi Dhewanthi, M.A., Focal Point GEF serta Inspektur Utama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengelolaan Lingkungan (BPLH). Sementara dana donor memberikan lapisan gula, kue sebenarnya harus datang dari kita, dampak sebenarnya terjadi ketika kolaborasi mendorong proses.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ini bukan sekedar bicara. TIWA adalah aksi nyata, menghidupkan pengelolaan DAS yang inklusif dan adaptif.
Sebagai proyek pembelajaran, TIWA berkembang seiring perkembangan zaman. Setiap langkah maju adalah respons terhadap tantangan saat ini, mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan, membentuk ketahanan untuk masa depan. Dalam proyek dengan banyak aktor dan impian yang beragam, tantangan sebenarnya adalah menjalin harapan itu menjadi satu tujuan bersama. Dan itulah yang ingin dilakukan TIWA, mengubah kolaborasi menjadi transformasi, dan transformasi menjadi dampak yang langgeng.
Nurul Iftitah, S.Hut., M.Si., Direktur Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan RI bersama Raimundo Mau, Senior Advisor of General Director for Forestry Timor Leste mewakili lembaga pelaksana TIWA, di akhir lokakarya kolaborasi ini memberikan sambutan penutup:
"Lokakarya Awal TIWA memicu komitmen yang mendalam. DAS lintas batas membawa tantangan yang kompleks—mulai dari perbedaan kebijakan hingga kapasitas yang bervariasi. Namun, ini adalah peluang. Melalui pengetahuan bersama dan kontribusi bersama, kami mengubah kompleksitas menjadi kolaborasi. Tidak ada negara yang bisa melakukannya sendiri—kolaborasi adalah kuncinya. Harapan saya adalah Proyek TIWA menetapkan standar baru untuk kesuksesan, memberikan dampak jangka panjang jauh melampaui rentang lima tahunnya. Daerah aliran sungai yang sehat, komunitas yang sejahtera—itulah visi kita bersama," kata Nurul.
Sementara, Raimundo menyatakan bahwa, ""Dua hari ini telah menyatukan kami dalam misi 5 tahun bersama. Sekembalinya dari lokakarya ini, masing-masing pihak harus mengkomunikasikan proyek ini hingga ke tingkat desa. Tantangan ada, tetapi dua hari brainstorming telah menghasilkan solusi yang beragam. Terima kasih atas berbagi dan belajar. Kami optimis untuk mencapai tujuan yang kami inginkan. Setelah tiga tahun meyakinkan GEF sejak 2020, proyek ini sekarang sedang berlangsung. Kita harus menjunjung tinggi kepercayaan GEF dan memenuhi harapan yang didokumentasikan. Kegagalan akan membahayakan peluang masa depan untuk daerah aliran sungai lintas batas lainnya. Dengan kolaborasi dua negara, proyek ini pasti akan sukses.
#TIWAProject #TimorIsland #WatershedCooperation #IndonesiaTimorLeste #SDG652 #NatureKnowsNoBorders #SustainableWaters #EnvironmentalDiplomacy #GEF #CI #INTI #InovasiTangguhIndonesia #TransboundaryWatersheds #ClimateResilience