Merekam Jejak Kreativitas: Dukungan UNESCO dan InTI untuk Sektor Kerajinan dan Seni Pertunjukan

Di tengah semangat pelestarian warisan budaya Indonesia, lebih dari 500 pelaku seni tradisional dan mahasiswa dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Lombok, dan Jakarta berpartisipasi aktif dalam serangkaian pelatihan bisnis dan workshop yang difasilitasi oleh Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) bersama UNESCO Jakarta. Kegiatan ini berlangsung sejak Oktober 2024 hingga Februari 2025 sebagai bagian dari perluasan inisiatif “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” dengan dukungan dari IDX30 Filantropi BNP Paribas.

Melalui kelas virtual, mentoring intensif, dan workshop tatap muka, para peserta mendapatkan keterampilan strategis mulai dari manajemen bisnis, pemasaran digital, pengembangan cerita produk budaya, hingga kolaborasi artistik. Sejumlah tokoh seni dan wirausaha kreatif seperti Ugoran Prasad (Teater Garasi, Vokalis Melancholic Bitch dan Majelis Lidah Berduri) dan Maria Tri Sulistyani (Pendiri Papermoon Puppet Theatre) menjadi narasumber dalam sesi pertunjukan seni, sementara Lila Imeldasari (Pemilik Brand Lemari Lila) dan Elizabet Ayu Angeliia (Pemilik Brand Kokaind) berbagi pengalaman seputar komunikasi visual dan pemasaran produk.

“Dalam kolaborasi, perbedaan bukan tujuan akhir, tetapi titik awal yang memungkinkan kita mencipta bersama,” ujar Ugoran Prasad dalam workshop 10 Desember 2024, yang menjadi salah satu momen penting dalam refleksi artistik peserta dari sektor seni pertunjukan.

Di Klaten dan Borobudur, para pengrajin batik mengikuti pendampingan branding produk dan merancang ulang narasi visual berdasarkan kearifan lokal, termasuk motif batik bertema manusia purba dari Situs Sangiran. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga meningkatkan daya saing produk mereka di pasar kreatif.

Sebanyak 162 peserta mengikuti empat workshop utama yang digelar di Klaten, Borobudur, Yogyakarta, dan Sangiran. Selain itu, 20 peserta terpilih mendapatkan asistensi branding mendalam melalui grup diskusi WhatsApp, dengan hasil berupa logo baru dan strategi komunikasi visual yang lebih kuat. Pelatihan juga menyasar komunitas seni seperti Sanggar Seni Asrita yang mendapat mentoring langsung selama dua hari penuh untuk memperkuat manajemen event seni mereka.

Veronika Fajarwati, Fasilitator Lapangan UNESCO dari InTI, menyampaikan, “Para pelaku seni mulai menyadari bahwa pemasaran bukan sekadar menjual produk, tapi menceritakan identitas. Proses ini membuka cara baru untuk berjejaring dan membangun kolaborasi lintas wilayah.”

Selain pendampingan tersebut, dukungan akses pasar melalui mini expo terhadap beberapa penerima manfaat program dilaksanakan di beberapa lokasi seperti di Hotel Amaranta dan juga di Rempah Borobudur yang berhasil membantu peningkatan pendapatan para peserta secara signifikan sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola pemasaran secara kolektif.

Seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan bagaimana pendampingan yang tepat dapat membuka jalan bagi pelaku budaya untuk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menyesuaikannya dengan dinamika pasar kreatif masa kini, tanpa kehilangan nilai otentiknya.
 

Share